BUS

"Terlambat..", benaknya terus-terusan mengatakan hal itu..
seiring perjalanannya semakin menjauh,
seiring bus antar kota itu melaju,
seiring penyesalan mulai memenuhi hatinya..

Sesaat dia tersadar dari lamunannya saat bus itu berhenti,
mengangkut para penumpang dari pinggir jalan..
bus itu semakin penuh sesak,
berbeda dengan pertama kali dia menaiki bus itu di terminal..
sewaktu dia memutuskan tekadnya untuk pergi,
meninggalkan semuanya..
melepaskan semuanya..
mencoba melarikan diri..
mencoba.. lari.. walaupun hatinya berkata lain..

Berat rasanya ia melakukan hal tersebut,
sedih dan sakit hatinya..
tak bisa membayangkan hidupnya nanti..
benar-benar sudah di luar kendalinya..

Bus itu pun kembali melaju,
dengan kencangnya menuju ke suatu tempat,
tempat dimana ia yakin tak akan ada yang menemukannya..
tempat dimana ia akan memulai lembaran baru..
hidup baru.. cerita baru.. kisah baru..
mungkin tidak seindah angannya,
tapi pasti lebih baik dari keadaannya saat ini..
lebih baik dari hidup lamanya..
pasti..

Terdengar suara percakapan penumpang yang duduk di belakangnya,
seorang ibu dan anaknya yang masih kecil..
sang anak dengan lucunya bertanya pada ibunya,
mengapa ibunya harus ikut dengannya,
padahal ia cuma naik bus untuk ketemu ayahnya,
yang tinggal di kota seberang..

Sang anak mengatakan bahwa ia sudah sering menaiki bus ini dalam perjalanannya ke sekolah..
bersama teman-temannya, setiap hari..
sang anak juga mengatakan bahwa ia tidak mau ibunya kembali bertemu ayahnya,
karena ia takut mereka akan mulai bertengkar lagi di depannya,
seperti yang terjadi pada bulan lalu,
saat ia dan ibunya mengunjungi ayahnya..

Sang anak terdengar seperti sudah dewasa,
dengan menyatakan hal itu,
bahwa ia tidak mau ibunya ribut dengan ayahnya..
bahwa lebih baik ia pergi sendiri,
jadi ibunya tidak perlu cape-cape dan sedih nantinya..
lucu.. padahal dari suaranya yang cadel, paling-paling ia baru berumur delapan atau tahun..
mungkin kelas tiga sekolah dasar..
apalagi ia masih belum bisa mengatur keras pelannya suara saat ia ngomong ke ibunya..
terdengar seperti menjerit sewaktu ia mempertahankan pendapatnya soal ayahnya..

Percakapan itu pun berhenti setelah sang ibu menyatakan
bahwa ia akan tetap mengantar anak itu menemui ayahnya.. titik.
"Huh.. ibu..!!", sang anak kesal..
lalu terdiam..
mungkin dia ngambek..
lucu.. hanya anak kecil, tapi bisa bertingkah seperti itu..

Kembali ia membayangkan hidupnya beberapa minggu sebelumnya,
teringat akan ucapannya,
seperti anak kecil yang beradu pendapat dengan ibunya itu,
yah, mungkin seperti itulah ia terdengar,
saat ia melontarkan kata-katanya,
kata-kata yang memulai semuanya..
kata-kata yang membuatnya harus menyusuri jalan ini,
mencari permulaan di suatu tempat baru..

Sudah tiga jam ia berada dalam bus,
sudah beberapa ratus kilometer ia lalui,
terus menjauhi tempat tinggalnya,
tempat ia bernaung selama ini..
bersama orang-orang yang dicintainya,
yang mungkin tidak menyanyanginya lagi setelah kejadian itu,
kejadian yang disebabkan olehnya..
kejadian yang disesalinya..
yang seharusnya tidak terjadi..
yang seharusnya tidak perlu ada..

Bus itu pun melalui beberapa warung-warung makan di pinggir jalan,
perutnya mulai berbunyi.. lapar..
terlintas waktu terakhir kali ia makan bersama,
saat pertengkaran itu pertama kali berlangsung..

Matanya mulai berair,
sedih.. tapi ia mencoba untuk tidak menangis lagi..
sudah habis air matanya seminggu ini..
seminggu yang ia habiskan dalam kesendirian..
seminggu dalam kesunyian..
tanpa ada yang menemani,
memeluknya, menepuk bahunya, membelai rambutnya,
dan mengatakan semua akan baik-baik saja..
semua tidak masalah.. semua akan termaafkan..
tapi ia tahu.. tidak sekarang.. tidak akan..
tindakannya sudah tidak akan termaafkan..

Sambil menahan tangisannya,
ia meraih tas di pangkuannya,
membuka dan mencari sebungkus tisu..
sewaktu tangannya merogoh ke dalam tasnya,
tangannya merasakan kalung rosario,
miliknya yang ia bawa kemana-mana..
untuk saat-saat ia merasa lemah,
saat-saat ia merasa jatuh,
tidak berdaya, tidak punya siapa-siapa di sampingnya..
rosario itu yang membantunya melewati saat-saat susah,
saat-saat seperti ini..

Ia ingat waktu pertama kali menerima rosario itu,
bentuknya yang indah..
hiasannya yang halus..
dan wanginya yang harum..
yang akan selalu ia rasakan saat ia menggenggam kalung itu di tangannya,
mendekapnya di depan bibirnya,
sambil mulutnya berkata-kata doa..

Rosario itulah yang menjadi kenangan terindahnya saat ini,
mungkin untuk selamanya..
kalung yang diberikan oleh kakak lelakinya,
yang begitu mencintainya,
yang selalu mendukungnya,
menemaninya, menjaganya, menyayanginya..
kakaknya yang kini telah tiada..
karena dirinya..

Tidak tahan dengan kenangan itu,
ia buru-buru menarik kalung itu keluar tasnya,
menggenggamnya dengan erat,
genggaman yang teramat keras,
sampai-sampai telapak tangannya terasa sakit karena kukunya,
tapi rasa sakit di tangannya itu tidak ada artinya
dibanding dengan kepedihan yang membara di hatinya sekarang..

Ia mendekap rosario itu di bibirnya,
sambil menahan isak tangisnya,
perih dan pedih rasa hatinya..
belum pernah rasa sesakit ini ada di hatinya..
karena belum pernah dalam seminggu ini dia menemukan rosario itu,
sehingga ia lupa akan pemberian kakaknya itu..

Tapi sekarang,
semua kenangan-kenangan itu kembali..
karena kalung itu merupakan satu-satunya hal yang paling berharga miliknya,
paling indah untuknya..

Rasa penyesalan terus membendung di dalam batinnya,
mengapa semua ini harus terjadi?
mengapa tidak ia mencegah ini terjadi?
mengapa ia melakukannya?
mengapa ia merasa sangat marah waktu itu?

Air matanya mulai mengalir di pipinya..
tidak sanggup lagi ia menahan rasa sedih ini..
mengapa ia harus melalui ini semua?
mengapa ia tidak berpikir lebih jernih saat itu?
mengapa ia melakukannya?

Sambil masih menahan isak tangisnya,
ia mulai membayangkan..
apa jadinya bila ia tidak bertengkar dengan kakaknya?
apa jadinya bila ia menerima permintaan maaf kakaknya?
apa jadinya bila ia berbaikan dengan kakaknya, sebelum semua itu terlanjur?
apa jadinya apabila ia tidak mengatakan kebohongan itu kepada ayahnya?
apa jadinya bila ayahnya tidak menghampiri kakaknya?
padahal ia sudah tahu sifat ayahnya..
ayahnya yang sudah terlalu sering mendekam di penjara,
yang selalu melakukan hal-hal buruk..
yang selalu memukuli ibunya apabila pulang dari mabuk-mabukan

bersama teman-temannya..
yang sampai saat ini masih menjadi buronan polisi..
karena pemukulan terhadap kakaknya..
pemukulan yang terjadi minggu lalu..
yang berakibat fatal ke kakaknya..
yang menyebabkan kakaknya meninggal..

Rasa sedihnya sudah tidak terbendung lagi..
saat ia mengingat pertengakaran hebat dengan kakaknya beberapa minggu lalu..
dimana ia merasa sangat marah dengan kakaknya,
karena mencegahnya mengejar mimpi,
mimpi yang sekarang terasa hampa..
mimpi yang sia-sia belaka..

Saat itu ia memilih untuk memutuskan hubungannya dengan kakaknya,
pergi meninggalkan rumahnya,
meninggalkan kakak dan adik-adiknya bersama sang ayah..
meninggalkan kenangan akan ibunya di rumah itu,
ibunya yang meninggal karena sakit-sakitan,
setelah terlalu sering dipukuli ayahnya...

Ia mengingat saat ia menetap di rumah kekasihnya,
hari-hari yang dihabiskan dengan kebahagiaan..
untuk sesaat..
sebelum ia mengetahui bahwa kekasihnya mempunyai niat lain,
sebelum ia mengetahui bahwa ia hanya dipergunakan,
sebelum kekasihnya menjualnya ke sebuah lokalisasi,
dimana ia melarikan diri setelahnya..

Mingu-minggu setelahnya dihabiskan dalam pelarian..
berpindah dari satu tempat ke tempat lain..
mencari-cari kerja di setiap kantor yang ada,
mencoba untuk bertahan sendiri..
walau terkadang ingin rasanya pulang ke rumah..
tempat dimana ia merasa nyaman dan terlindungi dari kejamnya dunia luar..
yang telah ia rasakan saat ia ditolak dalam setiap wawancaranya..
saat ia mengais-ngais tempat sampah untuk makan..
saat ia ketiduran setelah menangis di pinggir gang kecil..

Yang paling diingatnya adalah dua minggu lalu..
ketika ia sudah mendapatkan pekerjaan di sebuah swalayan..
pekerjaan yang cukup untuk membiayai hidupnya saat ini..
waktu itu ia bertemu dengan sang ayah,
yang datang ke tempat kerjanya untuk membeli beberapa krat bir,

Sang ayah menegurnya,
mengatakan bahwa mereka sekeluarga sudah mencarinya kemana-mana,
memarahinya karena tidak mengatakan apapun kepadanya,
dan menamparnya karena kabur dari rumah..

Dia ingat, membela diri di hadapan ayahnya..
karena takut akan pukulan ayahnya,
ia mengatakan bahwa ia takut untuk pulang ke rumah..
karena kakaknya mengancam mengusirnya,
dan mengancam agar ia tidak kembali pulang..
ia ingat sekali akan hal itu..
kebohongan yang dikarangnya agar tidak terkena amukan ayahnya..
kebohongan yang ia pikir bisa menyelamatkannya saat itu,
kebohongan yang ternyata menyebabkan penyesalan mendalam..
penyesalan akan kematian kakaknya..

Dia ingat minggu lalu saat ia menerima berita dari seseorang bekas tetangganya,
yang menyebutkan bahwa ayahnya dicari-cari oleh polisi,
karena penganiayaan terhadap kakaknya..
dan terlebih lagi..
kakaknya telah meninggal karena penganiayaan itu...
kakaknya yang masih terus mencarinya walaupun sudah tidak dianggap lagi olehnya..
kakaknya yang dianggapnya jahat karena menganggap mimpinya kosong..
kakaknya yang sebenarnya ia sayangi..
kakaknya yang pasti sangat mencintainya..
yang telah ia bunuh..
walaupun tanpa ia sengaja..
tanpa tangannya sendiri..
tanpa keinginannya..

Sekarang,
di dalam bus yang akan membawanya pergi jauh,
saat ia menyadari semuanya,
sudah terlambat..
hanya penyesalan yang tersisa..
dan pelarian adalah pilihannya..

"We often hurt the one we love the most..."

Comments

Popular posts from this blog

Penyesalan itu datang di akhir, kalau di awal itu Pendaftaran

BUCKET LIST

MENGEJAR MAS MAS