GOODBYES
I hate goodbyes. I hate separations. I hate when people who love each other so much should be apart from each other. Things are not suppose to be like that. Isn't it?
Perpisahan itu inti katanya adalah kata pisah (separasi). Yang berarti perbedaan jarak antar dua elemen (benda mati atau makhluk hidup). Dimana seharusnya kedua elemen itu bersama / berpasangan / berada dalam jarak yang dekat.
Awalan "per" dan akhiran "an" digunakan untuk mempertegas kata "pisah" itu sendiri.
Dengan pertegasan itu, kata perpisahan menjadi suatu hal yang keras, tegas dan tidak dapat dibantahkan.
Karena artinya yang mengarah ke negatif, maka ketegasan dari kata perpisahan membuatnya menjadi suatu kata yang menyakitkan untuk didengar maupun diucapkan.
Makanya gw ngga suka dengan kata itu. Perpisahan itu menyakitkan.
Siapa sih yang suka dengam perpisahan? Berpisah dari teman - menyedihkan. Berpisah dari keluarga - mengharukan. Berpisah dari kekasih hati - menyakitkan.
Tapi kadangkalanya perpisahan itu adalah sesuatu hal yang harus dilakukan dalam perjalanan hidup kita ini.
Selayaknya seorang anak yang harus berpisah dengan orang tuanya saat dia menempuh hidup baru dengan istri pilihannya.
Memang jalan perpisahan itu harus dilalui untuk mendewasakannya menjadi seorang yang bisa memimpin dan membina keluarganya sendiri di masa depan. Ngga bisa juga kan kita terus bergantung pada orang tua kita setelah kita punya istri dan anak?
Perpisahan juga harus dialami saat masa sekolah kita. Ketika kita naik kelas, kadang teman kita tidak bisa selamanya sama. Ada yang pindah sekolah, ada yang tidak lulus / naik, dll.
Dan itu harus kita jalani. Kalau tidak, apa kita mau terus-terusan di kelas itu tidak naik-naik?
Sampai ulangan nanti bisa menjawab sambil tutup mata karena materi pelajarannya sudah kita pelajari berulang-ulang bertahun-tahun.. tua di sekolah dong.. X_x
Beberapa hal di atas merupakan perpisahan yang harus kita lalui dalam proses perkembangan hidup kita. Memang harus dan selayaknya kita jalani. Walaupun bagaimana menyakitkan dan menyedihkannya.
Ada juga perpisahan yang tidak seharusnya kita jalani tapi terpaksa dilakukan karena konsekuensi dari pilihan yang kita buat ataupun keadaan yang menjerumuskan kita untuk harus melalui perpisahan itu.
Mau tak mau kita harus tetap melangkah menjalani perpisahan itu.
Seperti gw yang memilih untuk meringankan beban orang tua gw dengan berkuliah di universitas negeri.. (sebenarnya sih gara-gara sakit hati diselingkuhin pacar waktu sma, jadi pengennya jauh-jauh aja dari jakarta dan bandung - tempat gw dan dia memadu kasih selama dua tahun.. hahaha).
Dengan melakukan pilihan itu, gw harus menjalani konsekuensi untuk berpisah dari keluarga gw, dari kenyamanan hidup dalam rumah tercinta, dimana selalu ada makanan dan tempat untuk tidur. Dan juga orang-orang yang selalu sayang sama gw walaupun seburuk dan sebandel apapun kelakuan gw.
Dari orang tua gw, kakak gw, tante-tante dan om gw yang sangat perhatian sama anak / adik / keponakannya yang tercinta dan termanis ini.. hahaha.
Pokoknya, ngga enak lah pisah dari orang tua. Apalagi dari orang tua gw yang benar-benar sayang dan perhatian sama kedua anaknya yang sangat dicintainya. Apalagi alm. Bokap, yang jarang banget marah walaupun gw buandel bukan maen.
Sd udah maenan sampe ke depok, condet. Smp mulai kenal yang namanya cewe - my achilles heel kata alm. Bokap. Sma kabur-kaburan ke bandung - yup.. gara-gara cewe. Hahaha.
Anyway, begitulah perpisahan gw dari keluarga yang sangat menyayangi gw harus gw alami karena konsekuensi dari pilihan gw. Kata orang sih itu yang mendewasakan gw, karena gw belajar untuk mandiri dan mengatur hidup sendiri. Walaupun sampai sekarang pun hidup gw ngga teratur, tapi itu bukan karena gw ngga bisa ngatur.. tapi gw memilih untuk hidup tidak teratur alias memilih untuk hidup ngawur.. hahaha.
Memang gw merasakan perpisahan itu merupakan hal yang bagus untuk proses pendewasaan gw. Tapi tetap saja gw ngga suka. Lebih enak lah untuk tetap tinggal dalam naungan orang tua. Tidak usah pusing memikirkan makan apa, baju habis karena belum dilaundry, kosan harus dibayar kalau tidak mau tidur beratapkan bintang. Rasanya akan lebih aman, damai dan tenteram.
Salah satu perpisahan lain yang harus gw alami adalah perpisahan gw dengan teman-teman kuliah gw.
Karena gw kuliah di kampus negeri, jadi banyak teman gw yang berasal dari segala daerah di penjuru Indonesia.
Setelah wisuda, masing-masing akan lebih memilih untuk kembali ke daerah asalnya untuk membangun dan mengembangkan daerahnya masing-masing.
Banyak juga sih teman gw yang masih di Bali. Mereka memilih untuk tetap tinggal dan bekerja di Bali karena memang lebih nyaman dan sudah terlalu cinta sama suasananya disini.
Sama seperti gw yang memutuskan untuk menetap dan bekerja di Bali. Malas pulang ke Jakarta karena macet dan persaingan tidak sehat dalam perkantorannya. Gw pernah merasakan kerja di Jakarta yang harus melalui macet di jalan setiap hari dan harus menghabiskan waktu kurang lebih 4 jam dalam sehari di jalan.
Bahkan teman-teman gw waktu sma yang bekerja di Jakarta ada yang harus menghabiskan waktu 8 jam di jalan setiap harinya. Bayangkan saja, dengan jam kerja 8 jam sehari, ditambah 8 jam di jalan berarti waktunya sehari hanya tersisa untuk tidur saja (sehari 24 jam dikurangi 16 jam sisa 8 jam, tidur 6 jam, persiapan berangkat pagi 1 jam, makan malam 1 jam... kapan waktunya istirahat, nonton, jalan-jalan ataupun bermesraan sama istri tercinta? Pantes orang Jakarta banyak yang cerai.. hahaha).
Dibandingkan itu, gw kerja di Bali bangun jam 1/2 7, berangkat jam
8 kurang, 15 menit perjalanan ke kantor. Pulang jam 5-6an, sampai kos jam 6-7an, banyak waktu yang bisa gw sisihkan untuk istirahat sehingga keesokan harinya bisa benar-benar segar pikirannya dalam bekerja. Ide-ide bagus bisa muncul. Bidang pekerjaan gw menuntut ide-ide bagus soalnya, desain.
Kadang pulang kantor gw bisa mampir ke pantai, lihat sunset, clear my mind banget deh.
Yaa.. pantai. Itu salah satu hal terpenting yang bisa didapatkan dengan mudah disini. Di Jakarta susah banget cari pantai. Cuma ada pantai ancol, yang kata saudara tante gw : "Ancong bau tay" (orang Cina totok yang ngomongnya masih sengau-sengau gitu deh.. model-model yang jualan di glodok / mangga dua).
Hmm, jadi off topic kemana-mana nih.
Back to topic, yaa, perpisahan gw dengan teman-teman kuliah gw.
Sedih rasanya harus berpisah dengan sahabat-sahabat yang kita habiskan waktu bersama selama ini. Sama-sama menimba ilmu, berbagi rasa, berbagi canda, tawa dan suka duka.
Saling menolong saat kesulitan, saling mendukung dan mengingatkan satu sama lain agar tetap semangat berjuang demi masa depan yang cerah.
Saat mereka harus kembali ke kampung halamannya masing-masing, rasanya sedih sekali. Bagaikan terpisah dengan belahan-belahan jiwa kita. Tapi harus diikhlaskan karena memang itu jalan yang harus ditempuh oleh masing-masing dari kita demi masa depan kita.
Ngga enak banget. Tapi mau bagaimana lagi?
Namun ada lagi perpisahan yang lebih menyakitkan. Ketika kita berpisah dengan kekasih.
Gw mengalaminya beberapa tahun lalu dengan hati yang terpuruk. Karena keterbatasan pengertian tentang cinta dan masa depan, dan keterbatasan ruang lingkup manusia yang diatur dengan norma-norma dan adat. Maka gw pun harus merelakan hal itu terjadi. Segimana cintanya gw sama dia, tapi perpisahan adalah hal yang mutlak dilakukan demi masa depan dia (dan gw juga sih, tapi gw masih ngga rela banget :'''( huaaaaa).
Perpisahan itu bukanlah hal yang mudah. Bahkan seringkali menyakitkan. Tapi memang ada perpisahan yang harus dilakukan sejalan dengan proses perkembangan kehidupan kita. Pendewasaan karena perpisahan kadang malah menguatkan kita untuk bisa terus melaju, berjuang dalam dunia yang penuh dengan rintangan dan halangan. Penuh dengan masalah dan pilihan yang harus kita buat.
Perpisahan, sebuah kata yang merupakan momok jelek untuk gw. Tapi harus tetap gw terima sebagai bagian dari jalan hidup gw.
Mau tak mau, rela tak rela, sudi tak sudi, perpisahan adalah bagian dari hidup gw.
Goodbyes seem to be the hardest part of our life. But it's still a part of our life that we have to accept and live with. So don't be afraid to say it. Just remember to say "Goodbye, until faith brings us together again, 'til we meet again. See you later my friend, my dear family, my love".
Perpisahan itu inti katanya adalah kata pisah (separasi). Yang berarti perbedaan jarak antar dua elemen (benda mati atau makhluk hidup). Dimana seharusnya kedua elemen itu bersama / berpasangan / berada dalam jarak yang dekat.
Awalan "per" dan akhiran "an" digunakan untuk mempertegas kata "pisah" itu sendiri.
Dengan pertegasan itu, kata perpisahan menjadi suatu hal yang keras, tegas dan tidak dapat dibantahkan.
Karena artinya yang mengarah ke negatif, maka ketegasan dari kata perpisahan membuatnya menjadi suatu kata yang menyakitkan untuk didengar maupun diucapkan.
Makanya gw ngga suka dengan kata itu. Perpisahan itu menyakitkan.
Siapa sih yang suka dengam perpisahan? Berpisah dari teman - menyedihkan. Berpisah dari keluarga - mengharukan. Berpisah dari kekasih hati - menyakitkan.
Tapi kadangkalanya perpisahan itu adalah sesuatu hal yang harus dilakukan dalam perjalanan hidup kita ini.
Selayaknya seorang anak yang harus berpisah dengan orang tuanya saat dia menempuh hidup baru dengan istri pilihannya.
Memang jalan perpisahan itu harus dilalui untuk mendewasakannya menjadi seorang yang bisa memimpin dan membina keluarganya sendiri di masa depan. Ngga bisa juga kan kita terus bergantung pada orang tua kita setelah kita punya istri dan anak?
Perpisahan juga harus dialami saat masa sekolah kita. Ketika kita naik kelas, kadang teman kita tidak bisa selamanya sama. Ada yang pindah sekolah, ada yang tidak lulus / naik, dll.
Dan itu harus kita jalani. Kalau tidak, apa kita mau terus-terusan di kelas itu tidak naik-naik?
Sampai ulangan nanti bisa menjawab sambil tutup mata karena materi pelajarannya sudah kita pelajari berulang-ulang bertahun-tahun.. tua di sekolah dong.. X_x
Beberapa hal di atas merupakan perpisahan yang harus kita lalui dalam proses perkembangan hidup kita. Memang harus dan selayaknya kita jalani. Walaupun bagaimana menyakitkan dan menyedihkannya.
Ada juga perpisahan yang tidak seharusnya kita jalani tapi terpaksa dilakukan karena konsekuensi dari pilihan yang kita buat ataupun keadaan yang menjerumuskan kita untuk harus melalui perpisahan itu.
Mau tak mau kita harus tetap melangkah menjalani perpisahan itu.
Seperti gw yang memilih untuk meringankan beban orang tua gw dengan berkuliah di universitas negeri.. (sebenarnya sih gara-gara sakit hati diselingkuhin pacar waktu sma, jadi pengennya jauh-jauh aja dari jakarta dan bandung - tempat gw dan dia memadu kasih selama dua tahun.. hahaha).
Dengan melakukan pilihan itu, gw harus menjalani konsekuensi untuk berpisah dari keluarga gw, dari kenyamanan hidup dalam rumah tercinta, dimana selalu ada makanan dan tempat untuk tidur. Dan juga orang-orang yang selalu sayang sama gw walaupun seburuk dan sebandel apapun kelakuan gw.
Dari orang tua gw, kakak gw, tante-tante dan om gw yang sangat perhatian sama anak / adik / keponakannya yang tercinta dan termanis ini.. hahaha.
Pokoknya, ngga enak lah pisah dari orang tua. Apalagi dari orang tua gw yang benar-benar sayang dan perhatian sama kedua anaknya yang sangat dicintainya. Apalagi alm. Bokap, yang jarang banget marah walaupun gw buandel bukan maen.
Sd udah maenan sampe ke depok, condet. Smp mulai kenal yang namanya cewe - my achilles heel kata alm. Bokap. Sma kabur-kaburan ke bandung - yup.. gara-gara cewe. Hahaha.
Anyway, begitulah perpisahan gw dari keluarga yang sangat menyayangi gw harus gw alami karena konsekuensi dari pilihan gw. Kata orang sih itu yang mendewasakan gw, karena gw belajar untuk mandiri dan mengatur hidup sendiri. Walaupun sampai sekarang pun hidup gw ngga teratur, tapi itu bukan karena gw ngga bisa ngatur.. tapi gw memilih untuk hidup tidak teratur alias memilih untuk hidup ngawur.. hahaha.
Memang gw merasakan perpisahan itu merupakan hal yang bagus untuk proses pendewasaan gw. Tapi tetap saja gw ngga suka. Lebih enak lah untuk tetap tinggal dalam naungan orang tua. Tidak usah pusing memikirkan makan apa, baju habis karena belum dilaundry, kosan harus dibayar kalau tidak mau tidur beratapkan bintang. Rasanya akan lebih aman, damai dan tenteram.
Salah satu perpisahan lain yang harus gw alami adalah perpisahan gw dengan teman-teman kuliah gw.
Karena gw kuliah di kampus negeri, jadi banyak teman gw yang berasal dari segala daerah di penjuru Indonesia.
Setelah wisuda, masing-masing akan lebih memilih untuk kembali ke daerah asalnya untuk membangun dan mengembangkan daerahnya masing-masing.
Banyak juga sih teman gw yang masih di Bali. Mereka memilih untuk tetap tinggal dan bekerja di Bali karena memang lebih nyaman dan sudah terlalu cinta sama suasananya disini.
Sama seperti gw yang memutuskan untuk menetap dan bekerja di Bali. Malas pulang ke Jakarta karena macet dan persaingan tidak sehat dalam perkantorannya. Gw pernah merasakan kerja di Jakarta yang harus melalui macet di jalan setiap hari dan harus menghabiskan waktu kurang lebih 4 jam dalam sehari di jalan.
Bahkan teman-teman gw waktu sma yang bekerja di Jakarta ada yang harus menghabiskan waktu 8 jam di jalan setiap harinya. Bayangkan saja, dengan jam kerja 8 jam sehari, ditambah 8 jam di jalan berarti waktunya sehari hanya tersisa untuk tidur saja (sehari 24 jam dikurangi 16 jam sisa 8 jam, tidur 6 jam, persiapan berangkat pagi 1 jam, makan malam 1 jam... kapan waktunya istirahat, nonton, jalan-jalan ataupun bermesraan sama istri tercinta? Pantes orang Jakarta banyak yang cerai.. hahaha).
Dibandingkan itu, gw kerja di Bali bangun jam 1/2 7, berangkat jam
8 kurang, 15 menit perjalanan ke kantor. Pulang jam 5-6an, sampai kos jam 6-7an, banyak waktu yang bisa gw sisihkan untuk istirahat sehingga keesokan harinya bisa benar-benar segar pikirannya dalam bekerja. Ide-ide bagus bisa muncul. Bidang pekerjaan gw menuntut ide-ide bagus soalnya, desain.
Kadang pulang kantor gw bisa mampir ke pantai, lihat sunset, clear my mind banget deh.
Yaa.. pantai. Itu salah satu hal terpenting yang bisa didapatkan dengan mudah disini. Di Jakarta susah banget cari pantai. Cuma ada pantai ancol, yang kata saudara tante gw : "Ancong bau tay" (orang Cina totok yang ngomongnya masih sengau-sengau gitu deh.. model-model yang jualan di glodok / mangga dua).
Hmm, jadi off topic kemana-mana nih.
Back to topic, yaa, perpisahan gw dengan teman-teman kuliah gw.
Sedih rasanya harus berpisah dengan sahabat-sahabat yang kita habiskan waktu bersama selama ini. Sama-sama menimba ilmu, berbagi rasa, berbagi canda, tawa dan suka duka.
Saling menolong saat kesulitan, saling mendukung dan mengingatkan satu sama lain agar tetap semangat berjuang demi masa depan yang cerah.
Saat mereka harus kembali ke kampung halamannya masing-masing, rasanya sedih sekali. Bagaikan terpisah dengan belahan-belahan jiwa kita. Tapi harus diikhlaskan karena memang itu jalan yang harus ditempuh oleh masing-masing dari kita demi masa depan kita.
Ngga enak banget. Tapi mau bagaimana lagi?
Namun ada lagi perpisahan yang lebih menyakitkan. Ketika kita berpisah dengan kekasih.
Gw mengalaminya beberapa tahun lalu dengan hati yang terpuruk. Karena keterbatasan pengertian tentang cinta dan masa depan, dan keterbatasan ruang lingkup manusia yang diatur dengan norma-norma dan adat. Maka gw pun harus merelakan hal itu terjadi. Segimana cintanya gw sama dia, tapi perpisahan adalah hal yang mutlak dilakukan demi masa depan dia (dan gw juga sih, tapi gw masih ngga rela banget :'''( huaaaaa).
Perpisahan itu bukanlah hal yang mudah. Bahkan seringkali menyakitkan. Tapi memang ada perpisahan yang harus dilakukan sejalan dengan proses perkembangan kehidupan kita. Pendewasaan karena perpisahan kadang malah menguatkan kita untuk bisa terus melaju, berjuang dalam dunia yang penuh dengan rintangan dan halangan. Penuh dengan masalah dan pilihan yang harus kita buat.
Perpisahan, sebuah kata yang merupakan momok jelek untuk gw. Tapi harus tetap gw terima sebagai bagian dari jalan hidup gw.
Mau tak mau, rela tak rela, sudi tak sudi, perpisahan adalah bagian dari hidup gw.
Goodbyes seem to be the hardest part of our life. But it's still a part of our life that we have to accept and live with. So don't be afraid to say it. Just remember to say "Goodbye, until faith brings us together again, 'til we meet again. See you later my friend, my dear family, my love".
Comments
Post a Comment