PRIA BAIK = LANGKA

Dari beberapa blog dan artikel yang gw baca, sekarang banyak sekali wanita yang mengeluh susah mendapatkan pasangan yang merupakan pria "baik".
Mereka kebanyakan merasa pasangannya merupakan pria "tidak baik" yang kadangkala hanya memanfaatkan mereka - untuk tubuh ataupun materialnya, memanipulasi mereka - dalam pikiran sehingga mereka terus menerus dibuat merasa bersalah dan kasihan terhadap sang pria dan menjadi sulit untuk melepaskannya walaupun pria tersebut berulang kali menyakiti mereka, mengatur dan memaksa mereka untuk melakukan hal-hal sesuai perintah sang pria - bagaikan dalam magic spell (saking terpesonanya sehingga seperti terhanyut dalam rayuan sang pria), dan banyak keluhan lainnya.



Sebenarnya masih ada ngga sih pria baik di dunia ini?
MASIH.
Lalu dimana mereka berada?
Di sekitar kalian, para wanita yang mencarinya.
Mengapa mereka seperti tidak terlihat?
Nah, jawaban atas pertanyaan ini yang agak sulit dijelaskan.

Salah satu sifat yang paling diidamkan wanita di pasangannya adalah kebaikan. Walaupun begitu, di jaman sekarang ini sangatlah sulit untuk menemukan wanita yang berpasangan dengan pria "baik-baik".

Baik yang dimaksud disini adalah pria yang benar-benar tulus dan mau membahagiakan pasangannya DENGAN PENGORBANAN.. ya, pengorbanan.
Karena pengorbanan itu merupakan wujud tertinggi dalam kasih seorang manusia terhadap pasangannya. Wanita maupun pria akan menunjukkan keseriusan mereka dalam percintaan dengan pengorbanan. Contohnya; bagi pria kebanyakan akan mengorbankan waktu mereka dengan sahabat-sahabatnya untuk bersama pasangannya - dimana sahabat sebenarnya merupakan faktor paling penting dalam kehidupan seorang pria, mungkin lebih dari keluarganya. Bagi wanita, contohnya mereka akan mengorbankan kebiasaan mereka yang selama ini bersifat egosentris, menjadi ke arah pasangannya. Mereka akan berusaha memberi perhatian kepada pasangannya secara konkrit dan penuh.


Di tingkat lebih tinggi lagi, pengorbanan itu dapat berupa wujud yang lebih indah dan akan terasa berat bagi yang melakukannya bagi pasangannya, tetapi ini diperlukan dan merupakan hukum alam dalam sebuah hubungan kasih.

Seperti tertulis dalam buku-buku ajaran agama, bahwa pasangan kekasih akan meninggalkan orang tuanya untuk bersama satu sama lain dalam sebuah pernikahan - ini sudah terjadi sejak dahulu kala. Mengorbankan keluarga yang sudah sangat berjasa bagi hidup mereka untuk bisa bersatu dengan satu sama lain.
Agak kejam mungkin, tetapi memang tertulis dalam ajaran dari dulu, dan ini memang kenyataan, berapa banyak sih pasangan yang kalian kenal tetap tinggal bersama orang tuanya - apalagi orang tua kedua belah pihak. Minimal salah satu pihak orang tua akan ditinggalkan - tetapi bukan tak dianggap - hanya "lebih tidak diperhatikan".

Berawal dari prinsip pengorbanan tersebut, sifat "baik" itu disini akan diukur dari tingkat pengorbanan yang dilakukan sang pria terhadap pasangannya.

- Apakah pria tersebut meninggalkan sahabat dan temannya untuk bisa menghabiskan waktu dengan pasangannya? (seperti yang gw sebutkan di atas, bagi para pria, sahabat merupakan hal yang penting dalam hidupnya)

- Apakah pria tersebut mau memberikan hasil kerja kerasnya untuk pasangannya dengan tulus - tanpa ada pamrih, kecuali untuk mendapatkan balasan kasih sayangnya? (buat para pria yang sex-minded kasih sayang disini bukan sex - karena sex itu sendiri merupakan wujud pengorbanan dari sang wanita untuk pasangannya. Percaya deh, se-horny-horny-nya wanita minta sex sama pria tetap aja dalam hati kecil mereka berpikir bahwa mereka melakukan hal itu untuk menyenangkan sang pria. Bullshit kalau pria bilang wanita modern jaman sekarang juga suka melakukan sex seperti mereka, tanpa ada pemikiran lain-lain - buka mata loe bro: berapa banyak wanita yang loe kenal itu melakukan masturbasi sebanyak loe?)

Kembali ke pertanyaan-pertanyaan yang mendeskripsikan pria "baik":

- Apakah pria tersebut mau mengerti pasangannya dan memahami bahwa ada hal-hal yang harus diterima dari dalam diri sang wanita yang kadangkala sangat bertolak belakang dengan prinsip sang pria? ini kembali ke arah kompromi dari sang pria atas kelebihan dan kekurangan wanita.

- Dan terakhir (tapi menurut gw ini paling penting) apakah pria tersebut mampu menunjukkan sikap-sikap seorang gentleman atau dengan kata lain, bersikap selayaknya seorang pria terhadap wanita, dan tetap mempertahankan sikap tersebut selama mereka berhubungan? (bukan hanya jadi gentleman ketika pedekate dan kemudian jadi entengman* ketika sudah jadian. *entengman = sikap enteng (ringan) tangan, mulut, kelakuan, dll - ringan tangan bukan mau membantu - tapi ringan tangan dalam memukul/menyakiti secara fisik. Ringan mulut dengan mudahnya memaki/mengomel dalam nada keras, ringan kelakuan ngga mau lagi "melayani" wanita dengan perhatian.


Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, kebanyakan pria memang bersikap seperti itu, pada awal perkenalan. Tetapi ketika hubungan berlanjut, dan pria telah mendapatkan keinginannya, seringkali sikap-sikap seperti itu mulai memudar hingga akhirnya hilang sama sekali - ini gw sebut sindrom pedekate.
Dimana dalam tahap perkenalan pria tersebut melakukan hal-hal yang tidak diinginkan demi mendapatkan sang wanita - setelah dekat/jadian.. selamat malam aja deh.

Disinilah letak dari kerumitan membedakan pria baik yang benar dan pria baik PHP (Pemberi Harapan Palsu) a.k.a tukang Jambu (Janjimu Busuk - diambil lagu dangdut koplo kata teman gw). Dan gw heran, banyak pria yang seringkali melakukan hal ini, padahal yang paling penting dalam suatu hubungan itu chemistry (keterkaitan perasaan satu sama lain dalam segala hal, baik fisik, hati maupun sifat) dan timing (waktu yang tepat - seringkali timing ini merupakan faktor utama yang menyatukan/memutuskan hubungan cinta bahkan yang paling serius pun. Kadang orang jaman dahulu - sampai sekarang pun masih - menyebutnya dengan "jodoh").
Apabila dalam perkenalan dan pendekatan kita melakukan hal-hal "palsu" yang notabene bukan sikap asli kita, maka chemistry yang terjadi juga bukan yang sebenarnya. Sang wanita akan tertarik dengan "sosok" yang dibuat-buat dan setelah hubungan itu berlanjut (karena timing yang mendukung) maka mereka baru akan mulai merasa hilangnya chemistry yang mereka dapatkan ketika masa pendekatan itu - karena sang pria akan mulai menunjukkan sifat aslinya.

Kompleksitas inilah yang membuat para wanita kemudian sulit membedakan mana pria yang benar-benar baik dan pria yang hanya berpura-pura baik. Thus membuat mereka merasa semua pria itu "tidak baik".

Banyak yang membahas bahwa wanita lebih sering memilih sosok "bad boy" daripada sosok pria baik, gw kurang setuju akan hal ini. Menurut gw, jaman sekarang, dengan tingkat kemajuan teknologi yang sangat pesat ini, wanita akan dengan mudahnya memilih antara para pria yang mendekatinya, dengan bantuan mbah Google atau Facebook, Twitter, dsb.
Pribadi pria yang mulai melakukan pendekatan itu pun dapat dengan mudahnya diketahui dari posting-postingannya di internet, statusnya, hobi dan aktifitasnya setiap hari. Mereka kemudian dapat menilai sendiri pria itu menarik atau tidak untuk mereka.



Sosok "bad boy" yang dibahas oleh berbagai artikel ini menurut gw bukanlah pemahaman seperti dulu, bahwa pria itu "nakal" atau "keren" - seperti sosok Ali Topan Anak Jalanan yang hidup di metropolitan, nongkrong setiap hari dan banyak terlibat masalah, tetapi dapat nilai bagus dan jadi teladan.

Menurut gw, sosok "bad boy" jaman sekarang itu lebih ke arah "charming" atau menarik. Maksudnya disini menarik adalah rasa percaya diri yang cukup tinggi yang dikarenakan kelebihan fisik, materi, aktifitas, sikap dan sebagainya. Jadi orang yang "menarik" itu akan lebih diprioritaskan oleh sang wanita untuk dipilih menjadi pasangannya.
Satu hal yang perlu diingat disini, ngga semua pria "menarik" itu "bad boy". Tetapi kebanyakan, pria yang memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi seringkali merasa lebih tinggi dari wanita yang dekat dengan mereka. Jadi disinilah letak "kenakalan" mereka tersingkapi.
Karena merasa mereka menarik bagi wanita, maka mereka terkadang menggunakan daya tariknya itu untuk melakukan hal-hal yang kurang baik terhadap wanita. Berbeda dengan pria yang kurang menarik, dimana mereka tidak mempunyai kepercayaan diri yang cukup untuk berperilaku semena-mena terhadap wanita. Jadi mereka akan dengan sangat berbeda memperlakukan wanita dengan segala ketulusan dan kebaikan hatinya, karena mereka sangat bersyukur bisa dekat dengan wanita tersebut.

Sayangnya, dalam beberapa kejadian (lumayan banyak juga ternyata dari hasil penelusuran gw mengenai artikel pria baik ini) pria baik yang dekat dengan wanita akan dimasukkan ke dalam kategori "friendzone" atau teman baik.
Jadi saking nyamannya sang wanita dengan perlakuan pria baik tersebut, wanita itu akan dengan sangat sungkannya mengambil resiko untuk melanjutkan hubungan mereka ke tahap yang lebih serius, karena ada kemungkinan hubungan itu bisa berakhir dan mereka akan terpisah.
Padahal dari beberapa pendapat para blogger, pria tidak bisa selamanya dekat dengan wanita tanpa hubungan yang serius. Karena pada dasarnya, pria hanya akan dekat dengan wanita yang dia anggap menarik - dalam kata lain calon potensial untuk menjadi pasangannya.


Kenyataan ini banyak terjadi sekarang. Pria baik dijadikan sahabat - karena wanita masih dapat menikmati semua keuntungan dari kebaikan pria, tanpa harus melakukan "pengorbanan" untuk hubungannya. Dan hal ini menjadi pahit bagi sang pria baik, karena sang wanita akan dengan mudahnya mencari para "bad boy" - pria menarik - untuk dijadikan pasangannya, di depan mata mereka. Ketika ini terjadi, keadaan akan menjadi rumit, dimana sang pria baik itu akan mulai berpikir mengenai eksistensinya di mata sang wanita, dan kemudian pikiran itu pun berlanjut ke arah pertimbangan profit dan benefit hubungan mereka. Dengan kata lain, pria baik itu akan mulai merasa dipergunakan oleh sang wanita - ini yang menyebabkan banyak hubungan kedekatan "persahabatan" pria dan wanita ini mulai retak dan menjauh.

Sekarang, untuk para wanita yang mengatakan pria baik itu langka, coba tengok ke sahabat kalian, apakah dia salah satu orang yang mendekati kalian dulu namun kalian hanya jadikan "sahabat"?
Kalau iya, mungkin dialah pria baik untuk anda.
Bukannya tidak mungkin hubungan dari pertemanan menjadi pasangan kekasih, bahkan banyak dari para sahabat yang benar-benar bisa menjadi pasangan yang serasi karena mereka telah mengerti satu sama lain.
Saling menghargai dan saling tahu cara bersikap di depan satu sama lain.
Bukankah hal ini yang sebenarnya diinginkan dalam setiap hubungan?

Namun, apabila sang wanita memang kurang tertarik kepada pria baik yang dijadikan sahabtnya itu, tidak ada salahnya dia mencari pria lain untuk dijadikan pasangannya. Tapi gw benar-benar berharap sang wanita bisa berpikir untuk melepaskan sang pria baik sahabatnya itu untuk menjalani pencariannya untuk pasangan terbaiknya juga.
Sebagai manusia, keserakahan itu memang sifat dasar kita. Seringkali kita tidak pernah merasa cukup atas apa yang kita miliki, hal yang lumrah sebenarnya. Tetapi apabila keserakahan kita itu mengganggu atau bahkan menyakiti orang lain - apalagi yang kita sayangi - apakah itu hal yang benar untuk dilakukan?
Jadi, gw harap wanita-wanita ini bisa mempertimbangkan untuk melepas pria-pria baik tidak bersalah ini dari penjara "friendzone" dan biarkan mereka terbang untuk menemukan tempat persinggahan baru dimana mereka bisa bahagia. Seperti kalian yang ingin menemukan that one person who can bring the sparkles in your eyes everytime you think of him.

Pria baik itu langka, memang - untuk mata yang masih tertutup oleh kabut ketertarikan, keserakahan dan keegoisan. Tapi untuk mata yang bisa terbuka dan melihat dengan jelas, apa adanya, pria baik itu ada di sekitar kita.
Merekalah yang terkadang membuka jalan para wanita untuk mampu berkembang, menjadikan diri mereka lebih baik, mendukung dan memberikan semua hal yang tidak pernah diminta oleh para wanita, tetapi hal-hal tersebut sangat diperlukan dalam perjalanan hidup para wanita.
Pria baik itu ada, banyak, dan masih mencari harapan bahwa suatu hari nanti mereka akan dapat menemukan wanita yang tersadarkan oleh kebaikan mereka yang tulus dan sekian lamanya - seperti air hujan yang mampu membuat lubang di batu karang sedikit demi sedikit - untuk dapat ter-"bangun" dari tidurnya dan menerima cinta mereka.
Walaupun seringkali mereka dipergunakan oleh orang-orang di sekitar mereka, tetapi mereka tetap bersikap baik, karena mereka memang terlahir dan terdidik untuk bersikap seperti itu - bukan kepura-puraan semata dalam sindrom pedekate.

Pria baik itu ada dan nyata..
Sayangnya wanita yang bisa melihatnya hanya sedikit.

**For all The Good Guys out there.. keep your hopes up Bro.. someday..yes, someday you will find your woman who can see through you and love you for what you are - A GOOD GUY - A GREAT GUY.

Comments

Popular posts from this blog

Penyesalan itu datang di akhir, kalau di awal itu Pendaftaran

BUCKET LIST

MENGEJAR MAS MAS