CINA ASPAL
Peringatan:
Tulisan berikut mengandung unsur SARA, yang memang ditujukan untuk kepentingan kejelasan maksud tulisan ini. Mohon maaf apabila ada pihak-pihak yang kurang menerima.
Satu lagi yang gw dapat pelajaran dari perjalanan ke Penang, Malaysia ini, yang mayoritas orang Tionghoa (bahasa umum yang digunakan disini adalah bahasa Hokkian). Gw tu Cina Aspal.
Apa maksudnya?
Gw orang Cina yang kerja di bidang infrastruktur gitu (tukang aspal)? BUKAN.
Gw orang Cina yang kurang putih a.k.a hitam kayak aspal? BUKAN.
Gw orang Cina yang asal gitu? HAMPIR MENDEKATI.
Tepatnya: Gw tu orang Cina Asli tapi Palsu.
Maksud gw disini adalah dengan sebenar-benarnya dan sesungguhnya bahwa gw mengakui asal muasal dan darah yang mengalir di dalam tubuh gw sepenuhnya berasal dari darah nenek moyang gw yang berada nun jauh disana, di Tiongkok (pada jaman itu persemakmuran Cina lebih dikenal dengan sebutan Tiongkok). Mereka merantau dari negeri mereka demi impian hidup yang lebih makmur, sukses dan beranak cucu banyak. Seperti kakek moyang gw dari Nyokap yang datang ke Indonesia, kota Batavia tepatnya (Djakarta tempo doeloe) memakai baju seragam Bruce Lee-nya lengkap dengan sepatu kungfu selop hitam dan memanggul dagangan tahu buatannya untuk dipasarkan di kota itu.
Sedangkan kakek moyang gw dari Bokap datang ke Tjirebon (Cirebon) dengan kapal saudagar pedagang dan menetap di sana sebagai pengusaha yang cukup sukses di kemudian harinya. Bersama centeng-centeng-nya (preman) menguasai pasar dengan tangan bajanya sehingga terjaminlah masa depan anak cucunya.
Nah, dengan begitu lengkaplah darah yang mengalir di tubuh gw ini 100% berasal dari negeri nun jauh di sana, yang sampai sekarang belum gw injak (karena belum ada kesempatan dan juga malas.. Hahaha.. Kayaknya lebih suka ke Ibiza atau ke New York deh kalau disuruh milih.. Atau seenggaknya ke Thailand liat "The Ping Pong Show" X_x ).
Lalu, darimana gw bisa mengatakan kalau gw itu Aspal (asli tapi palsu)?
Bahkan sampai kakek gw sendiri pun masih menganut ajaran Kong Hu Cu, dimana almarhum menyembah dewa-dewa dalam Klenteng dekat rumah. Dan adat-adat upacara persembahyangan itu pun masih diteruskan oleh Nyokap gw dan menurun sampai ke cucunya juga.
Masih tuh gw merasakan yang namanya sembahyang Cap Go Meh, Imlek, bakar-bakar uang kertas, menyiapkan makanan satu meja penuh untuk Engkong (kakek) dan saudara-saudaranya, dan membakar Hio (dupa) untuk mendoakan mereka.
Masalahnya dimulai ketika Indonesia ini menerapkan peraturan untuk nasionalisasi warga yang tinggal di Indonesia.
Jaman Nyokap - Bokap gw kecil mereka kena keppres (keputusan presiden - inget pelajaran jaman sd yaa?) no. 127/U/Kep/12/1966 tentang Peraturan Ganti Nama Bagi WNI yang Memakai Nama Cina. Mereka harus memiliki SBKRI (surat bukti kewarganegaraan Indonesia) dan surat ganti nama apabila masih menggunakan nama Cina.
Nyokap gw, yang memang pada waktu dilahirkan HANYA memiliki nama Cina pun mengikuti peraturan itu demi tetap bersekolah dan melanjutkan ke kuliah universitas cukup ternama saat itu. Padahal menurut dia, nama Cina itu merupakan nama yang tidak dipilih sembarangan. Nama itu benar-benar merupakan identitas seseorang yang menunjukkan keturunannya, watak dan sifatnya (menurut ramalan di saat dia dilahirkan - shio dan tanggal lahirnya dll).
Nyokap gw pun bangga banget sama namanya yang menunjukkan bahwa dia salah satu keturunan dinasti besar pada masa jayanya dan mencerminkan bahwa hidupnya akan tetap harum sehingga membawa keindahan bagi orang-orang di sekitarnya.
Sayangnya, nama itu harus dilepas agar tetap bisa hidup di negara tercinta ini.
Semua perubahan itu berdampak sangat besar ke keturunan Nyokap dan adik-adiknya selanjutnya.
Karena pemberian nama Cina sudah tidak diperbolehkan lagi, maka dari sejak lahir pun gw hanya memiliki nama Indonesia. Yang rupanya karena trauma masa lalu dimana peraturan diskriminasi tersebut sangat kerasnya diterapkan kepada warga-warga Cina jaman dulu, maka nama yang diberikan kepada gw pun sangat-sangat Indonesiawi. Rizky. Artinya? Sudah jelas banget kan. Jadilah gw punya banyak taylor.
("Ejaan yang benar harusnya tailor bangggg !!" - kata gw sama salah satu tukang jahit langganan dekat rumah).
Dan tukang gigi, serta rumah makan di seluruh penjuru dunia. Bahkan dalam salah satu video klip dangdut koplo yang pernah gw download (sekali-dua kali aja lho.. Ngga sering kok nonton dangdut koplo.. Kecuali yang sambil striptease digrepe-grepe sama yang nyawer X_x ), gw melihat salah satu sponsornya adalah "Rizky Motor". Hebat. Gw punya dealer tanpa gw sadari.
("Ejaan yang benar harusnya tailor bangggg !!" - kata gw sama salah satu tukang jahit langganan dekat rumah).
Dan tukang gigi, serta rumah makan di seluruh penjuru dunia. Bahkan dalam salah satu video klip dangdut koplo yang pernah gw download (sekali-dua kali aja lho.. Ngga sering kok nonton dangdut koplo.. Kecuali yang sambil striptease digrepe-grepe sama yang nyawer X_x ), gw melihat salah satu sponsornya adalah "Rizky Motor". Hebat. Gw punya dealer tanpa gw sadari.
Nasib jadi orang yang punya nama sejuta umat.
Menurut almarhum Bokap gw, harusnya nama Cina gw itu lumayan bagus. Struktur nama Cina itu sendiri ada 3 bagian, bagian pertama menunjukkan Se'/marga/fam (family)/keluarga. Bagian kedua menunjukkan keturunan keberapa dari marga itu (bahkan bisa ditelusuri sampai ke ujung jaman dinasti marga itu berkuasa). Bagian ketiga merupakan personalisasi yang dilihat dan diharapkan akan menjadi apa anak ini di masa depan.
Nama Cina gw (kalau dulu dikasih) Tan Han Liong, Tan itu marga dari Bokap, Kakek, dan Kakek moyang gw. Berasal dari kata Chen (dalam bahasa Hokkian dibaca Tan) adalah marga terbesar kelima dalam daratan Cina. Marga Chen sendiri berasal dari marga Yu, yang merupakan keturunan Kaisar Shun.
Kaisar Shun dari dinasti Han merupakan salah satu pemimpin legendaris dari kerajaan Cina lama di tahun 23-22 BC, dan masa berkuasanya selama setengah abad merupakan yang terlama sepanjang sejarah Cina.
Han itu merupakan nama untuk keturunan dari Thiam (Bokap gw nama tengahnya Thiam). Dari sini bisa dilihat sudah merupakan keturunan keberapa gw dari kakek moyang dulu.
Sedang nama terakhir gw Liong, artinya naga. Jadi gw diharapkan mampu menjadi suatu legenda dalam hidup gw dan orang-orang di sekitar gw, mengarahkan dan menjadi pemimpin untuk menunjukkan jalan dengan tegasnya ke arah kemakmuran (maklum, orang Cina jaman dulu hanya berpikir ke arah kemakmuran mulu X_x ).
Sayang seribu sayang, nama bagus itu tidak bisa dipakai. Jadilah nama gw nama sejuta umat. Saking takutnya orang tua gw sama peraturan diskriminasi itu. Bahkan menurut cerita tante gw yang lulusan srimulat, sewaktu upacara pergantian nama Nyokap gw dan adik-adiknya ada kejadian seru dan menegangkan.
Ceritanya begini, waktu itu Kakek gw dengan nurutnya mengikuti saran ayah angkatnya, yang merupakan keturunan Belanda, dalam perihal pergantian nama untuk anak-anaknya. Karena pergantian nama itu harus menggunakan nama Indonesia (atau nama Belanda - hebat yaa, nama Belanda boleh tapi nama Cina ngga.. X_x ), jadi ayah angkat kakek gw pun menyarankan agar anak-anak Kakek gw memakai nama belakangnya untuk nama fam. Van Eitenborg. Keren kan? Hampir jadi orang Belanda jadi-jadian Tante gw.
Tapi sayang, nama depannya itu lho.. Markonah.
Markonah van Eitenborg. Hahaha.. Belanda apaan tuh?
Jadinya, Nyokap dan tante-tante gw merencanakan suatu misi rahasia. Mereka tidak terima dengan pergantian nama tersebut. Walaupun ada iming-iming rasa Belanda-nya, mereka tetap tidak mau seumur hidupnya memperkenalkan diri dengan nama Markonah, Marsinah, Maryati, Marhana dan Mar-mar lainnya.
Akhirnya misi rahasia itu dijalankan, dalam sebuah upacara pergantian nama, mereka diam-diam mengalihkan perhatian Kakek gw dan ayah angkatnya. Dan dengan liciknya, mereka menukar kertas pergantian nama yang ditulis Kakek gw dengan yang mereka tulis sendiri.
Misi berhasil. Nama mereka pun tidak lagi menjadi Indokampung-Belandais, tapi Indonesia modern - Irra, Sinta, Anna, Ratna.
Tinggallah Kakek gw yang terheran-heran kenapa nama di daftarnya bisa berubah sendiri.
Kembali ke gw, sekarang dengan nama Indonesia banget ini, gw sebenarnya masih merasa Cina sih.
Walaupun kulit tidak begitu putih seperti orang-orang Cina lain di Gading, Pluit dan sekitarnya, tetap sipit gw keliatan kok.
Tapi, ada hal kedua yang membuat gw merasa terasingkan di pulau dengan mayoritas masyarakat Cina ini. Yaitu bahasa.
Bersamaan dengan peraturan pergantian nama sewaktu jaman Nyokap dan Bokap gw masih sekolah dulu, keluar juga peraturan untuk menggunakan bahasa Indonesia bagi bangsa Tionghoa. Jadi bahasa Tionghoa (Ko'i) yang dipakai sehari-hari di rumah dan lingkungannya harus mulai dibiasakan tergantikan oleh bahasa Indonesia. Terutama karena sekolah-sekolah sudah tidak boleh lagi menggunakan bahasa Tionghoa untuk diajarkan ke murid-muridnya. Semua harus menggunakan bahasa Indonesia. Bahkan dalam pelajaran bahasa daerah pun harus memilih dari bahasa Sunda atau Jawa, tidak boleh bahasa Cina.
Akibatnya, Nyokap dan Bokap pun sudah lupa bagaimana cara berbicara bahasa nenek moyangnya. Karena mereka sudah tidak menggunakan bahasa Hokkian, jadi gw pun tidak mengenal bahasa itu.
Terus, ketika gw ditanya sama orang Tionghoa di Penang ini dengan bahasa Hokkian, gw pun cuma bisa bengong. Ditanya (yang gw tangkap pertanyaannya seperti ini) asalnya darimana, gw jawab Indonesia. Lalu ditanya lagi aslinya darimana, gw jawab Indonesia. Kemudian ditanya lagi orang tua gw orang mana, gw jawab Indonesia. Bingung dah dia.
Tante gw kemudian dengan diplomatisnya menjawab bahwa kami keturunan Tionghoa, tapi sudah warga negara Indonesia. Dan keponakannya (gw) tidak mengerti bahasa Hokkian karena keluarga besar sudah tidak menggunakan bahasa Hokkian di rumah. Mengapa begitu? Tanyanya. Maklum Koh, kita hidup di Indonesia. Langsung dia no comment.. X_x
Dua hal inilah yang membuat gw benar-benar merasa Cina Aspal. Dasar sebagai orang Cina, bernama pun tidak punya, berbahasa pun tidak bisa. Terus bagaimana anggapan orang Cina di negara lain? Atau bahkan orang Cina di negara sendiri? Gw bukan orang Cina.
Sedangkan orang Indonesia pun menolak mengatakan gw orang Indonesia. Pasti langsung mengatakan gw orang Cina karena sipit.
Lalu sebenarnya orang apa gw? Dimana tempat gw? Apa gw orang utan yang tidak memiliki kewarga negaraan?
Semua permasalahan ini berawal dari politik kurang ajar yang dilakukan oleh tokoh revolusi Indonesia yang merebut kekuasaannya dengan cara penipuan dan pengkambing-hitaman RRT (Republik Rakyat Tionghoa) yang sedang erat hubungannya dengan pemimpin bangsa Indonesia saat itu.
Isu komunis, atheis, sampai peng-Indonesia-an bangsa Tionghoa pun disebarkan demi menjelekkan nama pemimpin itu. Akhirnya diskriminasi itu meluas sampai lingkup nasional dan dikeluarkanlah peraturan-peraturan yang memojokkan warga keturunan Cina di Indonesia.
Sampai sekarang, peraturan-peraturan yang bersifat diskriminasi itupun masih banyak berlaku. Walaupun setelah pergantian kepemimpinan negara Indonesia, telah ada perubahan-perubahan peraturan yang mendukung keberadaan warga keturunan di Indonesia.
Contoh gampangnya, pernah dengar ngga film mandarin itu ngga didubbing ke bahasa Indonesia?
Kenapa sih ngga boleh terdengar bahasa Cina ke kuping orang Indonesia? Sedangkan bahasa lain boleh, bahkan bahasa Ibrani, Maya dll yang pasti tidak ada keturunannya yang menjadi bangsa Indonesia (yang pastinya tidak mendukung kemajuan bangsa Indonesia sebagaimana warga keturunan Cina di Indonesia - terutama di bidang perdagangan) boleh diperdengarkan di televisi nasional.
Untuk diskriminasi yang terjadi pada warga keturunan Cina di Indonesia, gw mau acungkan empat jempol gw !! *gubrak* jatuh dari kursi karena ngangkat dua jempol tangan dan dua jempol kaki barengan.
Terima kasih sudah menjadikan gw manusia tanpa identitas.
Semoga ini semua akan berakhir suatu saat nanti, sehingga anak-cucu gw akan mendapat identitas yang jelas sebagai warga negara Indonesia, maupun keturunan Tionghoa dan mengenal asal muasalnya sebagai manusia seutuhnya. We all need to know the origin of ourself.






Comments
Post a Comment