THIRD REICH

Third Reich di sini bukan berarti Nazi atau mengenang kekejian Adolf Hitler dalam membentuk negara untuk manusia superior, tapi hanya sebutan gw untuk tattoo ketiga gw.
Gw minta maaf dari dalam lubuk hati terdalam, apabila judulnya agak menyinggung perasaan orang lain.
Tapi itu terdengar sesuai banget dengan proses tattoo ketiga gw ini.
Third Reich di sini bermakna bahwa tattoo ini merupakan tattoo ketiga gw dan merupakan simbol atas jaman penjajahan tattoo atas tubuh gw mulai sekarang.
Setelah sebelumnya berusaha sangat keras untuk mencari ide dalam pembuatan tattoo pertama gw yang gw ceritakan dalam blog gw sebelumnya, kata-kata aashaa (Hope in Sanskrit) turut merupakan hasil dari pencarian kata "Hope" untuk tattoo pertama gw.

*picture taken from www.tattoonomad.com

Proses pembuatannya pun seperti saat penjajahan Nazi bermula di Paris, dengan tiba-tiba dan sangat cepat. Hampir tidak terlihat adanya perencanaan mendalam akan dilakukannya pembuatan tattoo ini. Dari mulai acara gathering bersama yang tidak jadi dan diundur, hingga saat teman gw mengirim pesan bahwa lebih baik melakukan proses pembuatannya untuk menggantikan waktu yang terbuang percuma karena perencanaan gathering yang tidak terlaksana tersebut.
Gw pun langsung mengiyakan permintaan teman gw tersebut, karena gw berpikir akan amat sayang waktu disia-siakan, afterall Time is Money.

Jadilah kita berangkat ke tempat studio tattoo teman di Buana Raya (Com.ink Tattoo Studio) dan langsung blas...
Setelah empat seloki Tequila Jose Cuervo dan obrolan-obrolan seru (serta tak lupa jalan-jalan ke Discovery Shopping Mal dan dinner at Pasar Senggol Kuta) dimulailah proses tersebut.

Teman gw bertanya apakah gw ingin menggunakan salep anesthesi  untuk pembuatan tattoo ini, dan gw dengan tegasnya menjawab: "Tidak perlu" (gayanya seperti orang yang akan dihukum mati dan menjawab tidak perlu ada pembelaan terhadap hukuman yang diberikan.. ciyeeeehhh X_x)
Tapi benar, pada prinsipnya hanya orang yang mau menderita yang seharusnya mendapatkan tattoo karena billa tidak, orang yang pengecut dan takut sakit pun mampu mendapatkan tattoo di badannya dan dengan tinggi hatinya bisa berbangga atas sesuatu hal yang ternyata tidak dialaminya sedikitpun.
Proses pembuatan tattoo itu menyakitkan, karena setiap jengkal tubuh kita itu mempunyai saraf yang saling terkait dan saling merasakan. Tidak semua orang dapat dengan mudahnya mendapatkan tattoo (seharusnya) apalagi dengan obat yang meredakan rasa sakit tersebut sehingga pembuatan tattoo terasa menyenangkan. Ini adalah suatu hal yang salah.

Proses pembuatan tattoo itu menyakitkan sehingga banyak sekali anggapan bahwa orang-orang yang bertattoo itu merupakan orang yang mampu menahan rasa sakit yang lebih dari pada orang biasa, sehingga di sinilah timbulnya suatu sensasi dalam mendapatkan tattoo. Ada yang bilang bertattoo itu berani, karena sakit yang didapatkan dalam proses pembuatannya, karena mampu menyingkapi perasaan terolok oleh orang saat melihatnya, mampu menahan rasa getir dari masyarakat sosial yang masih sampai sekarang mengkotak-kotakan  orang bertattoo sebagai orang bandel, tidak mau ikut aturan dan lain sebagainya.
Sebenarnya semua anggapan itu salah besar, karena bukan berarti orang bertattoo itu seorang rebel (pemberontak) ataupun sampah masyarakat. Tattoo itu merupakan seni menghias tubuh, menunjukkan prinsip hidup dan rasa keindahan yang dimiliki oleh sang penattoo (tattoo artist) maupun sang korban kulit (yang ditattoo). Seni bukanlah sesuatu hal yang bisa dengan mudahnya diinterpretasikan oleh pandangan mata saja, tetapi seni mempunyai nilai lebih mendalam baik karena ide, proses pembuatan dan hasil yang tercipta dari seorang seniman.
Jadi bertattoo itu adalah berekspresi melalui tubuh sendiri dengan menghias tubuh melalui media tinta yang permanen dan memberikan rasa sensai yang khas dan unik pada setiap orang yang terkait dalam proses pembuatan tattoo tersebut.

Nah, tattoo ketiga inilah yang merupakan tonggak perlawanan gw terhadap pandangan naif orang terhadap tattoo. Di sinilah ikrar gw tercipta bahwa seni dan prinsip yang gw pegang akan selalu menghiasi tubuh gw sampai pada saatnya tubuh gw tidak bisa melakukan ekspresi lagi. Gw adalah manusia biasa yang sangat mengapresiasi seni dan itu gw tunjukkan langsung dengan apresiasi di kulit gw sendiri, dengan tattoo.

Jadi terserah deh loe mo ngomong apa, boleh donk gw berekspresi dengan diri gw sendiri, dan hal ini ga mengganggu loe kok. Kenapa loe mesti risih dan rese? Piss men, jangan jadi orang-orang yang usil karena rasa iri dan dengki terhadap orang lain. Kita hidup saling berbeda pribadi dan jalannya masing-masing, jadi silahkan ambil jalan yang loe anggap terbaik untuk loe dan gw ambil jalan yang gw anggap terbaik untuk gw. Selama kita saling menghormati dan menghargai gw rasa hidup kita akan baik-baik saja. Ujung-ujungnya toh kita akan menjadi debu juga.. from ashes to ashes - dust to dust. AMEN.

Comments

Popular posts from this blog

Penyesalan itu datang di akhir, kalau di awal itu Pendaftaran

BUCKET LIST

MENGEJAR MAS MAS